Hampir Setahun Terendam Banjir, Sawah di Aceh Tamiang Akhirnya Kembali Panen
September 16, 2026
Aceh Tamiang, bukainnews.id - Setelah hampir setahun menunggu, T. Zaini kembali memanen padi di lahan seluas satu hektare miliknya di Desa Seuneubok Dalam Upah, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang.
Suara mesin perontok padi terdengar di tengah persawahan pada awal pekan ini. Momen tersebut menjadi panen pertama bagi Zaini setelah banjir besar melanda Aceh Tamiang pada November 2025.
Banjir kala itu merendam area persawahan ketika tanaman padi masih dalam masa pertumbuhan. Kondisi tersebut membuat banyak petani kehilangan kesempatan memanen hasil tanamannya. Setelah air surut, lumpur juga menutupi lahan pertanian.
Zaini kemudian membersihkan sawah agar dapat kembali menggunakannya untuk bercocok tanam. Ia mengerjakan proses pembersihan secara mandiri atau membayar tenaga kerja menggunakan biaya sendiri.
Beruntung, arus banjir yang cukup deras membuat endapan lumpur di sawah miliknya tidak terlalu tebal. Lumpur yang tersisa mencapai sekitar 50 sentimeter.
"Waktu banjir arusnya cukup kencang, jadi lumpurnya tidak terlalu mengendap," ujar Zaini, Senin (14/9/2026).
Setelah melewati proses pemulihan lahan, kerja keras Zaini akhirnya membuahkan hasil. Ia berharap pemerintah turut membantu petani dengan menyediakan pupuk dan kebutuhan pertanian lainnya agar produksi sawah yang terdampak banjir dapat kembali berjalan.
Pemerintah juga menjalankan program rehabilitasi untuk memulihkan lahan pertanian yang terdampak banjir di Aceh Tamiang. Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran Rp48,47 miliar pada 2026 untuk merehabilitasi 4.173 hektare sawah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Plt Kepala Dinas Pertanian Aceh Tamiang Irwan Hadi menjelaskan, pemerintah menjalankan program tersebut secara bertahap.
"Rehabilitasi ini bersumber dari APBN 2026 dan dibagi dalam dua tahap pengerjaan untuk mempercepat pemulihan fungsi lahan pertanian," kata Irwan pada Kamis (10/9/2026), dilansir Antara.
Hingga kini, pemerintah telah menyelesaikan rehabilitasi 712 hektare sawah dengan tingkat kerusakan sedang. Program tersebut menggunakan anggaran Rp9,6 miliar.
Sementara itu, rehabilitasi terhadap 1.961 hektare sawah yang mengalami kerusakan ringan mencapai progres 90 persen. Pemerintah mengalokasikan Rp18,62 miliar untuk pekerjaan tersebut.
Kaposkowil Satgas PRR Aceh Safrizal ZA menilai pemulihan lahan pertanian membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Ia mendorong perguruan tinggi, kelompok tani, TNI, serta pemerintah daerah terus berkolaborasi untuk mempercepat rehabilitasi dan memulihkan produktivitas sawah.