Usai Ledakkan Bom Rakitan, Siswa MAN 3 Padang Ikut Rehabilitasi di Bapelkes
Juli 17, 2026
Padang, bukainnews.id – Siswa MAN 3 Padang berinisial R yang membawa dan meledakkan bom rakitan di lingkungan sekolah pada Selasa (14/7) kini menjalani rehabilitasi di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Padang. Selama proses tersebut, Kesbangpol Sumatera Barat bersama pihak kepolisian melakukan pendampingan dan pengawasan.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Padang, Yasril, mengungkapkan hasil pemeriksaan Densus 88 Antiteror Polri terhadap orang tua R menunjukkan bahwa siswa tersebut pernah beberapa kali meminta pindah sekolah. Permintaan itu muncul ketika R masih duduk di kelas XI.
"Dia minta ke orang tua untuk pindah sekolah, orang tuanya bilang tetap saja sekolah di MAN 3 Padang saja, kan baru satu tahun. Permintaan pindah sekolah itu disampaikan ketika anak ini masih kelas XI," ujar Kepala Kantor Kemenag Kota Padang, Yasril, Rabu (15/7).
Menurut Yasril, pihak sekolah baru mengetahui keinginan R untuk berpindah sekolah setelah Densus 88 memeriksa orang tuanya. Sebelumnya, keluarga tidak pernah menyampaikan alasan tersebut kepada pihak sekolah.
"Alasan minta pindah ada kendala di sekolah ini, sudah minta ke ibunya, tapi persoalan tidak dikasih tahu ke kami. Jadi minta pindah sekolah ini tahunya setelah densus menginterogasi orang tuanya," ungkapnya.
Meski R menjalani rehabilitasi, Kemenag Kota Padang tetap menjamin hak pendidikannya. Untuk sementara waktu, Kemenag menitipkan proses belajar R di MAN 2 Padang.
"Anak ini berada di Bapelkes, kami menjamin hak pendidikannya dengan menitipkan belajarnya di MAN 2 Padang," jelasnya.
Pasca insiden tersebut, Kemenag juga menginstruksikan guru bimbingan dan konseling (BK) MAN 3 Padang untuk memberikan pendampingan psikologis kepada seluruh siswa. Selain itu, sekolah menggelar kegiatan senam, sosialisasi, dan pembinaan sebagai bagian dari pemulihan kondisi para siswa.
"Anak-anak lain tidak ada trauma setelah kejadian ini. Tadi pukul 06.30 WIB, seluruh siswa mengikuti kegiatan senam dan dilanjutkan sosialisasi serta pembinaan," ungkapnya.
Sementara itu, hasil penyelidikan sementara menunjukkan R diduga menyimpan dendam karena mengalami perundungan sejak masih duduk di bangku kelas IX SMP. Polisi juga menyebut R mempelajari cara merakit bom dari sebuah grup di internet dan mengaku terinspirasi oleh peristiwa ledakan bom rakitan yang pernah terjadi di SMAN 72 Jakarta.