Breaking News
Mode Gelap
Artikel teks besar

Debit Sungai Ciliwung Menyusut Drastis, Bendung Katulampa Sentuh TMA 0 Cm

                          (Doc-Istimewa)

Bogor, bukainnews.id - Ketinggian muka air (TMA) di Bendung Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, tercatat mencapai 0 sentimeter pada Sabtu (18/7). Kondisi tersebut menandakan debit aliran Sungai Ciliwung mengalami penurunan drastis seiring musim kemarau yang melanda sebagian wilayah Pulau Jawa.

Penjaga Bendung Katulampa, Muhammad Alwan, mengatakan dalam beberapa hari terakhir tinggi muka air di bendung tersebut hanya berkisar antara 0 hingga 10 sentimeter. "Dampaknya memang mulai terasa karena musim kemarau," kata Alwan.

Meski kondisi sungai menyusut, masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Ciliwung tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu. "Untuk imbauan kepada warga masyarakat atau warga di hilir bantaran Kali Ciliwung, imbauan tetap siaga dan waspada saja. Di saat hujan, kan ada beberapa wilayah yang berpotensi hujan," katanya.

Surutnya debit air membuat dasar Sungai Ciliwung di sekitar Bendung Katulampa terlihat jelas. Hamparan bebatuan yang sebelumnya terendam kini muncul ke permukaan akibat minimnya aliran air.

Kondisi tersebut juga mulai dirasakan warga sekitar. Salah seorang warga, Ujang (64), mengaku kesulitan mendapatkan air dari sumur yang menjadi sumber utama kebutuhan rumah tangganya.

"Dampaknya ya satu, sumur kering. Warga susah. Apalagi kalau enggak punya air PAM itu susah banget," ujarnya, Minggu (19/7).

Ia mengatakan debit air sumur terus menurun sehingga membutuhkan waktu lama hanya untuk mendapatkan satu ember air. "Sumur kadang-kadang 3 jam baru 1 ember dapat. Kadang beli air galon buat masak atau minum. Kalau mandi ke rumah adik, pakai air PAM. Ya numpang di rumah adik," tuturnya.

Ujang berharap pemerintah dapat menyalurkan bantuan air bersih bagi warga yang terdampak, sembari berharap hujan segera turun dalam waktu dekat.
"Ya, mudah-mudahan minggu-minggu ini ada hujan. Warga sini mungkin juga begitu. Harapannya minggu-minggu ini ada hujan," ucapnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan rendahnya curah hujan akibat musim kemarau menjadi salah satu faktor yang memengaruhi berkurangnya debit air sungai. Namun, menurutnya, penyebab pasti menurunnya tinggi muka air perlu dikaji lebih lanjut oleh instansi terkait.

“Untuk atribusi tinggi air pada sungai, perlu dikonsultasi pada PU (Dinas Pekerjaan Umum). BMKG memonitor curah hujan yang berkontribusi pada air sungai, yang saat ini rendah karena musim kemarau,” ujarnya.