Nilai Tukar Rupiah Melemah, Faktor Geopolitik Timur Tengah Jadi Sorotan
Mei 27, 2026
Jakarta, bukainnews.id - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan menyentuh level Rp17.812 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (27/5/2026) pukul 10.18 WIB. Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda melemah 17 poin atau 0,10 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.795 per dolar AS pada Selasa (26/5/2026).
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang pada perdagangan pagi terpantau bergerak beragam. Yen Jepang (JPY) menguat 0,06 persen, dolar Hong Kong (HKD) naik 0,01 persen, dolar Singapura (SGD) menguat 0,05 persen, serta dolar Taiwan (TWD) naik 0,11 persen. Penguatan juga terjadi pada won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,49 persen, peso Filipina (PHP) 0,03 persen, yuan China (CNY) 0,08 persen, dan baht Thailand (THB) 0,23 persen. Sementara itu, rupee India (INR) tercatat melemah 0,48 persen dan ringgit Malaysia (MYR) bergerak stagnan.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh faktor global, terutama memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, pasar turut mencermati laporan mengenai serangan baru yang dilakukan Amerika Serikat terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di wilayah selatan Iran.
Selain faktor eksternal, Ibrahim menyebut pelemahan rupiah juga dipengaruhi kondisi domestik, termasuk menurunnya tingkat kepercayaan terhadap ekonomi nasional.
Ia menilai tingginya biaya produksi perusahaan, khususnya yang bergantung pada bahan baku impor, berpotensi meningkatkan tekanan ekonomi dan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Dalam satu bulan terakhir, lonjakan PHK cukup signifikan. Kondisi ini mulai berdampak pada sejumlah perusahaan yang melakukan efisiensi hingga menghentikan kegiatan operasionalnya," ujar Ibrahim dalam keterangannya.