Breaking News
Mode Gelap
Artikel teks besar

Kisah Pilu Kusnia, Korban Dugaan TPPO Pengantin Pesanan di China

                           (Doc-Istimewa)

Indramayu, bukainnews.id - Kisah memilukan dialami Kusnia (21), warga Desa Jambak, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus pengantin pesanan di China. Kasus tersebut kembali menjadi sorotan publik setelah video permintaan tolong dari Kusnia viral di media sosial. Dalam video itu, korban dikabarkan meminta bantuan agar bisa dipulangkan ke Indonesia.

Menurut keterangan ibunya, Dartem (52) atau Darkem, Kusnia awalnya dijanjikan pekerjaan di sebuah restoran di China oleh seorang agen pada Desember 2025. Korban disebut tergiur dengan tawaran gaji besar dan pekerjaan ringan.

Namun setibanya di China, Kusnia justru dipaksa menikah dengan seorang pria warga negara China. Ia disebut sempat menolak, tetapi mendapat ancaman harus membayar denda sebesar Rp7 juta.

Pria tersebut diduga membeli Kusnia dengan nilai sekitar Rp400 juta, sementara korban hanya menerima mahar sebesar Rp22 juta. Selama tinggal bersama pria yang disebut sebagai suaminya itu, Kusnia diduga mengalami kekerasan fisik, intimidasi, hingga kekerasan seksual. Saat ini, korban dilaporkan tidak lagi tinggal bersama pria tersebut dan berada di sebuah panti perlindungan di wilayah Anhui, China.

Kondisi Kusnia disebut memprihatinkan karena kehilangan dokumen identitas serta tidak memiliki uang. Pemerintah Kabupaten Indramayu kini berupaya memulangkan korban ke Tanah Air dengan berkoordinasi bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Serikat Buruh Migran Indonesia.

SBMI Indramayu diketahui menerima laporan langsung dari keluarga korban pada 10 Mei 2026. Mereka juga mendesak aparat kepolisian segera mengusut sindikat TPPO yang diduga merekrut korban dari wilayah Indramayu.

Kasus ini menambah panjang daftar dugaan perdagangan orang dengan modus pengantin pesanan yang kerap menyasar perempuan muda dari keluarga kurang mampu di Jawa Barat. Para korban umumnya dijanjikan kehidupan layak dan mahar besar untuk menarik minat bekerja atau menikah di luar negeri.