PDIP Soroti Lonjakan Harga Minyak, Beban Subsidi Terancam Membengkak
Maret 21, 2026
(Doc-nixnews)
Jakarta, bukainnews.id - Lonjakan harga minyak dunia yang melampaui asumsi APBN 2026 dinilai PDIP dapat memberikan tekanan serius terhadap kondisi fiskal negara. Dengan harga minyak yang kini berada di kisaran US$83 per barel, pemerintah menghadapi risiko penyempitan ruang fiskal karena angka tersebut lebih tinggi dari asumsi APBN sebesar US$70 per barel.
Juru Bicara PDIP Guntur Romli menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak akan berdampak langsung pada meningkatnya beban subsidi energi, khususnya BBM. Bahkan, jika harga minyak mencapai US$100 per barel, tambahan subsidi diperkirakan bisa membengkak hingga Rp300–Rp400 triliun, yang berpotensi mengganggu stabilitas APBN.
“Untuk menutupinya itu, menaikkan harga BBM atau ya mengalihkan program-program yang dianggap memberatkan fiskal kita. Misalnya kayak MBG (Makan Bergizi Gratis), Koperasi Merah Putih Rp 3 miliar per desa dikalikan 80.000,” jelasnya.
Dalam pandangannya, besarnya beban anggaran juga terlihat dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut menghabiskan sekitar Rp1 triliun per hari. Kondisi ini menjadi sorotan, terutama karena posisi utang negara yang telah mencapai sekitar Rp9.800 triliun.