Breaking News
Mode Gelap
Artikel teks besar

Sambut Bulan Suci Ramadan, Warga Cokrodiningratan Gelar Kirab Dua Gunungan

                           (Doc-Istimewa)

Yogyakarta, bukainnews.id - Warga Kecamatan Cokrodiningratan Kelurahan Jetis, Kota Yogyakarta menggelar kirab dua gunungan berisi kue apem dan hasil bumi dalam agenda tahunan Ruwahan Sesarengan Kampung Cokrodiningratan tahun 2026. Kirab gunungan menyusuri jalan-jalan kampung sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur jelang datangnya bulan suci Ramadan.

Di samping itu, megiatan ruwahan kali ini mengusung tema "Guyub Rukun Sesarengan Gawe Resik Ing Ati". Tema tersebut mencerminkan semangat persatuan, kebersamaan, serta upaya membersihkan hati sebelum menjalankan ibadah puasa.

Di sisi lain, doa bersama yang digelar menjelang Ramadan ini diikuti seluruh elemen masyarakat Cokrodiningratan. Di mana, kegiatan ini tidak memandang suku, ras, maupun agama.

Tak hanya warga setempat, kegiatan ini juga diikuti komunitas pelajar. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti mahasiswa dari berbagai asrama luar daerah hingga biarawati Katolik.

Ruwahan sesarengan menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya warisan leluhur Kampung Cokrodiningratan yang terus dijaga secara turun-temurun. Apem yang dikirab memiliki makna filosofis afwun atau ampunan. Sehingga, sedekah apem dimaknai sebagai ajakan untuk saling memaafkan atas kesalahan sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Sementara hasil bumi melambangkan rasa syukur atas limpahan rezeki yang diterima warga.

Usai dikirab, dua gunungan tersebut diperebutkan warga di balai RW untuk dinikmati bersama. Selain itu, hasil itu juga boleh dibawa pulang dan diolah menjadi berbagai hidangan.

Ketua Panitia Ruwahan, Wahyu Herman Riyadi, mengatakan ruwahan sesarengan merupakan wujud doa bersama. Selain itu, ruwahan sesarengan juga sebagai ungkapan rasa syukur warga Cokrodiningratan atas kelancaran serta kemudahan dalam kehidupan sehari-hari.

"Kami ingin mendekatkan kembali budaya adat istiadat kepada teman-teman, terutama generasi muda yang saat ini tampak mulai kurang tertarik dengan hal-hal seperti ini. Momentum ruwahan ini kami jadikan sarana untuk mengenalkan dan menumbuhkan kembali kecintaan terhadap budaya," katanya, Senin (26/1/2026).

Sebelum puncak acara ruwahan, warga Cokrodiningratan juga telah melaksanakan tradisi nyadran. Di mana, tradisi nyadran ini merupakan kerja bakti membersihkan makam serta doa bersama untuk para leluhur Kampung Cokrodiningratan.