Antisipasi Kelangkaan Semen di Aceh, Satgas PRR Koordinasi dengan PT SBA dan Polda
Agustus 14, 2026
Aceh, bukainnews.id - Kelangkaan semen mulai mendapat perhatian serius dari Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh. Kondisi tersebut muncul ketika kebutuhan material meningkat untuk mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Kepala Pos Komando Wilayah (Kaposkowil) Satgas PRR Aceh, Safrizal ZA, menilai persoalan tersebut perlu segera mendapat penanganan. Menurut Safrizal, kebutuhan semen di Aceh meningkat signifikan seiring berlangsungnya berbagai tahapan rehab-rekon.
Jika kondisi tersebut terus berlanjut, kelangkaan semen berpotensi menghambat pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Safrizal kemudian berkoordinasi dengan PT Solusi Bangun Andalas (SBA) untuk mencari solusi atas keterbatasan pasokan.
"Saya sudah bertemu dengan PT SBA, mereka sudah top produksi, tidak bisa serta-merta menaikkan produksi. Sementara di Aceh, kita sedang membutuhkan material semen untuk rehab-rekon," ujar dia.
PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) nantinya akan membantu memenuhi kebutuhan semen yang masih kurang. "Kekurangan semen nantinya akan dipenuhi oleh PT SBI [PT Solusi Bangun Indonesia], holding dari PT SBA," tambahnya.
Selain mengandalkan pasokan dari dalam daerah, Satgas PRR juga mempertimbangkan pengadaan semen dari luar Aceh. Safrizal menyebut pihaknya akan melaporkan opsi tersebut kepada Kasatgas PRR.
Selanjutnya, pembahasan mengenai pasokan dari luar daerah akan melibatkan Danantara. Di sisi lain, Safrizal menegaskan kenaikan harga semen bukan berasal dari keputusan pabrik.
"Pabrik semen tidak menaikkan harga. Tapi ada mekanisme pasar karena kelangkaan," jelasnya.
Dia meminta masyarakat dan pelaku usaha tidak memanfaatkan kondisi tersebut untuk menimbun semen. Safrizal juga mengingatkan pihak tertentu agar tidak mengambil keuntungan secara berlebihan.
Untuk mengantisipasi praktik penimbunan, Satgas PRR telah berkoordinasi dengan Polda Aceh. "Nanti akan ada pengecekan oleh Polda Aceh," kata dia.
Safrizal juga meminta seluruh pihak ikut menjaga kelancaran distribusi semen selama agenda rehab-rekon berlangsung. "Ini banyak agenda nasional, [saya minta] agar semua pihak berpartisipasi supaya distribusi [semen] bisa berjalan baik, [saya harap] tidak ada pihak-pihak yang mencari keuntungan sendiri, melupakan rehab-rekon dan kebutuhan masyarakat," lanjutnya.
Saat ini, harga rata-rata semen di Aceh berada di kisaran Rp80.000 per sak. Safrizal menilai pemerintah perlu mengendalikan kenaikan harga, terutama jika mendekati 100 persen.
Sebab, lonjakan hingga dua kali lipat dapat memengaruhi perencanaan anggaran proyek rehab-rekon. Kondisi tersebut juga berpotensi menghambat pengerjaan proyek di lapangan.
"Kalau naiknya sampai 100 persen pasti menghambat. Tentu kontraktor tidak bisa bekerja. Oleh karenanya kita harus tekan ini sedemikian rupa, masuk ke harga yang bisa ditoleransi," katanya.