Breaking News
Mode Gelap
Artikel teks besar

Rupiah Melemah di Tengah Isu Defisit Fiskal dan Danantara

                             (Doc-nixnews)

Jakarta, bukainnews.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Rupiah berada di level Rp17.716 per dolar AS atau turun 49 poin setara 0,28 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.667.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal maupun internal.
Menurut Ibrahim, salah satu sentimen eksternal berasal dari keraguan investor terhadap prospek perundingan perdamaian antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga dinilai memperburuk tekanan inflasi global.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendorong bank sentral Amerika Serikat kembali menaikkan suku bunga acuannya. "Ada kemungkinan besar sampai akhir tahun, ya, bank sentral Amerika ini akan menaikkan suku bunga 50 basis poin," terang Ibrahim dalam keterangan resmi, Jumat (22/5/2026).

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR pada 20 Mei 2026 yang disebut mendapat perhatian dari S&P Global.
Menurutnya, S&P berpotensi menurunkan peringkat utang Indonesia karena defisit fiskal dinilai berpeluang melebar hingga mendekati 3 persen.

Ibrahim juga menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah melakukan operasi pasar dengan menjual surat utang negara senilai Rp2 triliun hingga Rp4 triliun. Namun langkah tersebut dinilai belum mampu menopang penguatan rupiah.

"Apalagi dampak dari pidato Presiden kemarin yang sangat mengganggu jalannya komoditas ke depannya, yang akan dipantau satu pintu melalui Danantara,” katanya.

Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi dinamika global, arah kebijakan suku bunga AS, serta respons pasar terhadap kebijakan ekonomi pemerintah ke depan.