Breaking News
Mode Gelap
Artikel teks besar

Tersisa 66 Ekor, Populasi Pesut Mahakam Terdesak Tambang dan Tongkang

                              (Doc-Istimewa)

Jakarta, bukainnews.id – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyoroti semakin menyusutnya populasi pesut air tawar di Indonesia yang kini diperkirakan tersisa 66 ekor.

Ancaman terhadap satwa dilindungi tersebut antara lain berasal dari aktivitas pertambangan batu bara dan lalu lintas tongkang yang masih melintasi sungai-sungai kecil di Kalimantan Timur. Padahal, sungai-sungai itu telah berstatus kawasan konservasi berdasarkan penetapan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta tidak memenuhi ketentuan lebar alur pelayaran menurut Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

"Dulu waktu kita tahun 90-an waktu sering belajar di sini masih banyak di tepian Samarinda, hari ini sudah enggak ada. Jadi kita wajib selamatkan," kata Hanif.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan pihaknya akan mengambil langkah tegas terhadap aktivitas pertambangan yang mengancam habitat pesut di Sungai Mahakam. Ia menyatakan tidak akan ragu menempuh jalur hukum terhadap pelanggaran yang ditemukan.

Sebelumnya, dua Pesut Mahakam ditemukan mati di anak Sungai Mahakam. Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup (Gakkum LH) menduga kematian tersebut berkaitan dengan kegiatan tambang batu bara di sekitar wilayah itu.

Data RASI mencatat populasi Pesut Mahakam pada 2025 hanya sekitar 60 ekor. Penyebabnya antara lain jeratan jaring nelayan, tabrakan dengan kapal tongkang, serta pencemaran logam berat dari lapisan cat tongkang yang berdampak pada kualitas ekosistem sungai.